Dosa Siapa Atas Terjadinya Krisis Iklim

“Dosa Siapa Atas Terjadinya Krisis Iklim ?”

Dalam hal ini tentunya pemerintah memiliki tanggung jawab yang sangat besar karena mendirikan bangunan yang melanggar Environmental Ethics dan ditambah dengan adanya UU agraria yang mempermudah investor untuk membuka lahan usaha.

Berdasarkan wacana pemerintah bahwa IMB dan Amdal akan dihapuskan untuk memangkas birokrasi yang mempersulit investasi. Padahal Amdal berfungsi sebagai pertahanan pertama pelindung alam. Peraturan tentang penghapusan Amdal dapat kita lihat dalam rancangan Omnibus Law.

Contoh nyata adalah bagaimana reklamasi dilakukan demi para investor tanpa melihat aspek lingkungan, dalam perspektif eco-feminist, hal tersebut telah melanggar hak teluk untuk bertekuk, hak ombak bertemu dengan bibir pantai, hak pantai menerima cahaya matahari langsung yang tak pantai dapatkan karena matahari terhalang oleh gedung-gedung tinggi, hak masyarakat setempat menikmati alam yang didapatkan secara GRATIS. Yang dilanggar bukan hanya lingkungan, tapi society dan culture masyarakat setempat.

Dalam aspek sosial dan budaya perempuan adalah kelompok paling rentan yang terkena dampak perubahan iklim. Berdasarkan data dari PBB, 80% perempuan menjadi kelompok terdampak dari adanya perubahan iklim dikarenakan peran utamanya sebagai perawat, penyedia makanan dan bahan bakar yang kemudian menyebabkan mereka lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Hal ini dapat dilihat terkait dengan pembagian kerja bagi perempuan yang berkontribusi terhadap terciptanya kemiskinan. Kebanyakan perempuan bekerja di sektor informal dan pertanian yang rentan secara ekonomi terhadap bencana alam. Keduanya tergolong sektor dengan tingkat kerusakan terparah ketika terjadi suatu bencana alam. Akibat bencana, para perempuan yang menggantungkan hidupnya di sektor tersebut menderita kerugian yang luar biasa karena kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin.

Namun dalam kasus ini, terkadang perempuan mengalami persoalan dalam hal bargaining power dalam menentukan kebijakan. Rendahnya kekuatan perempuan untuk mengambil keputusan masih menjadi penghalang bagi perempuan untuk merealisasikan berbagai inisiatif ekonomi untuk meningkatkan sumber pendapatan alternatif bagi keluarganya.

Selain itu krisis iklim atau kerusakan lingkungan terjadi dikarenakan demand terhadap makanan yang bersumber dari animal product sangat tinggi.

Pemakaian energi untuk menghasilkan sepotong daging dapat dilacak dari kebutuhan energi:

  1. Menanam tanaman makanan ternak
  2. Transpor ke pabrik makanan ternak
  3. Pengolahan di pabrik makanan ternak
  4. Transpor dari pabrik ke peternakan
  5. Pengoperasian peternakan
  6. Transpor ternak ke pejagalan
  7. Pengoperasian pejagalan
  8. Transportasi daging dari pejagalan ke pabrik produksi
  9. Pengoperasian pabrik produksi
  10. Transportasi daging ke toko
  11. Pendinginan daging agar tidak rusak

Setiap tahap di atas menimbulkan polusi, gas rumah kaca dan pemakaian energi besar yang dampaknya akan di derita seluruh bumi, seluruh kota dan akhirnya pada skala yang jauh lebih kecil, bangunan dan kehidupan di dalamnya. Setiap menit hutan seluas 7 kali lapangan sepak bola dibakar untuk dijadikan peternakan.

Environmental Protection Agency melaporkan bahwa metana 23 kali lebih efektif dalam menjebak panas di bumi dibandingkan karbon dioksida. Sedangkan nitrogen oksida 296 kali lebih berpotensi menjadi GRK daripada karbon dioksida. Jadi sangatlah keliru jika kita hanya berkonsentrasi pada pengurangan karbon dioksida. Masalahnya, siapa yang memproduksi metana dan nitrogen oksida? Ternyata peternakan menjadi sumber terbesar metana (sekitar 40%). Sementara PBB melaporkan bahwa industri daging, telur dan produk hewani lain melepaskan 60% N2O di bumi.

Pemerintah memang punya kuasa penuh atas segala kebijakan sebagai pembuat Public policy.

Tapi kamu adalah penguasa penuh atas dirimu sendiri, berlaku adil-lah sejak dalam pikiran.

 

 

Penulis : Fauzan Alif // Foto : Greenpeace

Daftar Pustaka;

  • https://www.epa.gov/ghgemissions/understanding-global-warming-potentials
  • https://www.epa.gov/climate-indicators/greenhouse-gases
  • http://genderandenvironment.org/
  • IUCN’s new publication Roots for the Future: the Landscape and Way Forward on Gender and Climate Change is being launched at COP21 on Tuesday, 8 December