LPM Sukma (13/01/2019) – Hari ini adalah minggu kelima PT. MRT Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan bersama komunitas. Kali ini PT MRT Jakarta mengundang Komunitas Pandu Lisane, sebuah komunitas relawan untuk belajar dan mengajarkan bahasa isyarat ke masyarakat. Mengusung topik “MRT-BILITY”, acara ini dihadiri oleh sekitar 100 orang yang secara langsung datang ke lokasi. Bukan hanya itu, KOPTUL (Kopi Tuli) juga ikut serta memberikan 100 kopi gratis kepada pesertanya.

Pandu, pendiri komunitas Pandu Lisane menyampaikan penjelasannya mengenai acara ini. “Kita diajak oleh MRT untuk bersama-sama menginformasikan bahwa MRT ini bisa diakses untuk disabilitas, akhirnya kami berkoalisi membuat sebuah event. Event ini bertujuan untuk memberitahu teman-teman caranya berkomunikasi dengan disabilitas dan bagaimana akses untuk disabilitas, dengan tema “MRT-BILITY” yang bermaksud MRT saat ini sudah ability untuk teman-teman disability,” ucap Pandu pagi itu disela-sela riuh suasana acara.

“Acara ini bentuknya seperti festival, bedanya festival ini bukan seperti band-band acara musik, festival kita adalah festival disabilitas, jadi kita bagi ada lima pos yang bisa didatangi oleh teman-teman,” ujar Pandu.

Pos satu jika kita lihat ada Pos Daksa, dimana di pos ini teman-teman akan diberikan informasi daksa seperti apa. Karena selama ini sebagian besar daksa yang diketahui orang-orang hanya memakai kursi roda saja. Ternyata tidak hanya itu, daksa ada yang secara fisiknya kekurangan, terlahir tidak sempurna, ada yang karena sebuah kecelakaan dan lainnya.

Pos dua itu adalah Pos Tuli, pos tempat teman-teman belajar bahasa isyarat. Karena akses untuk teman-teman tuli hanyalah bahasa isyarat. Di pos tuli ada dibagi dua bagian, bagian pertama belajar tentang abjad, bagian kedua belajar tentang kata-kata atau cara berbicara melalui tulis ke teman-teman tuli.

Pos ketiga nanti ada Pos Tuna Netra, di pos ini teman-teman akan diberikan tantangan berjalan seperti tuna netra dengan mata yang ditutup kain dan sebuah tongkat.

“Jadikan kita tidak tahu ya, lihat tuna netra jalan-jalan padahal sebenarnya mungkin mereka butuh bantuan kita, teman-teman disini diberikan challenge gimana caranya mereka jalan di guiding block yang notabene-nya itu tidak gampang, tadi tuh banyak yang komentar-komentar, aku tuh takut banget mas, kaya aku enggak tahu apa-apa, itulah yang dirasakan teman-teman netra. Kita memang tujuannya disini supaya teman-teman yang non-disabilitas bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi disabilitas,” lanjut Pandu.

Lalu yang terakhir adalah pos umum, pos utama itu ada pendaftaran dan merchandise.

“Awalnya saya penerjemah bahasa isyarat untuk membantu teman-teman tuli, terus saya berpikir bahwa teman-teman disabilitas ini punya ide banyak tapi mereka nggak ada yang menghubungkan, akhirnya saya membuat Pandu Lisane yang artinya Pandu itu memandu, mengarahkan, membantu, Lisane itu Tuli, Daksa, Netra. Nah kita mencari teman-teman non-disability yang memang mau belajar dan mengajarkan.” pungkasnya.

 

Penulis : Kiky PDP